5 Kesalahan Umum Ketika Merekrut Milenial4 min read

5 kesalahan umum ketika merekrut milenial

Saat ini milenial merupakan kelompok usia yang mendominasi pasar tenaga kerja di Indonesia saat ini. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2021 lalu, jumlah pekerja dalam kelompok usia ini berjumlah 65.649.534 (46,84%). 

Generasi milenial lekat dengan beberapa karakteristik. Hal ini yang harus dipahami oleh pemilik usaha dan pemberi kerja untuk menerapkan strategi rekrutmen maupun employee engagement

Karakteristik ini yang membedakan generasi milenial dengan generasi sebelumnya yaitu gen Z dan baby boomer dan generasi setelahnya yaitu gen Z. 

Definisi generasi milenial

Belakangan, istilah milenial memang ramai diperbincangkan. Hal ini wajar, mengingat jumlah komposisi penduduk Indonesia sedang didominasi oleh kelompok usia ini termasuk pasar tenaga kerja yang ada. 

Sebutan generasi milenial merujuk pada kelompok demografi yang terlahir di awal 1980-2000, atau mereka yang saat ini berusia 42 tahun hingga 22 tahun di tahun ini. 

Menurut data BPS pada Agustus 2021, total angkatan kerja saat ini adalah 140.152.575, mulai dari usia 15 tahun ke atas. Persebaran angkatan kerja per kelompok usia dapat dilihat lebih jelas dalam infografis di bawah ini.

Milenial masih menjadi kelompok usia yang menduduki persentase terbanyak di antara kelompok usia yang lain. 

Selain itu, kita perlu mengenal beberapa karakteristik yang menggambarkan milenial secara umum. Hal ini dapat menjadi gambaran untuk memberikan perlakuan hingga benefit bagi pekerja di kelompok usia ini. 

Baca juga: 5 Cara Menciptakan Lingkungan Kerja Ideal untuk Milenial

Manfaat merekrut milenial 

Menurut Linkedin beberapa karakter di bawah ini umum ditemukan di antara pekerja milenial:

  • Multitasker (mudah terdistraksi!)
  • Terhubung (tidak dapat dipisahkan dari media sosial)
  • Tech-savvy 
  • Selalu ingin tahu
  • Pengakuan dan validasi
  • Work-life balance 
  • Berorientasi pada kerja tim
  • Komunikasi yang jujur dan otentik
  • Transparansi, generasi milenial cenderung lebih menuntut transparansi
  • Inklusivitas 

Melihat dari semua karakter umum yang ditemukan pada pekerja milenial di atas, beberapa menjadi kekuatan generasi ini. Sementara, mungkin perlu strategi khusus untuk karakteristik lain seperti kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan dan validasi. 

Salah satu sebabnya adalah kebijakan perusahaan yang konservatif mungkin belum mengakomodasi kebutuhan tersebut sehingga perlu dobrakan kebijakan. 

Baca juga: 5 Cara Menciptakan Lingkungan Kerja Ideal untuk Milenial

Kesalahan yang harus dihindari ketika merekrut milenial

Jarak (gap) antara kebijakan dengan kebutuhan milenial perlu diatasi dengan strategi baru. Ditambah lagi, komposisi pekerja milenial merupakan yang terbesar, kebijakan ini akan membantu perusahaan mendapatkan dan mempertahankan kandidat terbaik. 

5 kesalahan di bawah ini sebisa mungkin dihindari:

Menuliskan job description yang tidak jelas

Job title dan job description yang tidak jelas akan membingungkan bagi kandidat. Apalagi, untuk milenial yang mengharapkan komunikasi yang jelas dan jujur dari pemberi kerja. 

Dengan menuliskan deskripsi pekerjaan yang tidak jelas, seperti misalnya menggabungkan berbagai peran dalam satu posisi, akan membuat kandidat langsung mundur setelah membaca informasi. 

Kandidat akan bingung, tidak tertarik bahkan bisa jadi justru mengundang kandidat yang salah untuk masuk ke tahap selanjutnya. Hal ini tentu tidak inginkan sebagai rekruter. 

Hanya mengandalkan gaji dan benefit yang besar untuk menarik mereka

Gaji dan tunjangan yang besar tentu menarik, tidak terkecuali untuk karyawan dari generasi milenial. Namun, mereka juga mengharapkan berbagai kondisi kerja untuk mendukung kinerjanya. 

kondisi -kondisi lain ini dirasa sama pentingnya juga untuk mereka. Beberapa kondisi ideal yang diharapkan antara lain, fleksibilitas kerja, tim yang dapat diandalkan dan kesempatan untuk mengembangkan diri secara personal maupun profesional.

Menggunakan terlalu banyak jargon

Milenial mengharapkan pola komunikasi yang jujur dan otentik. Oleh karena itu, menggunakan terlalu banyak jargon dianggap tidak sesuai. 

Rekruter sebaiknya menghindari menggunakan terlalu banyak jargon dalam iklan lowongan kerja, deskripsi pekerjaan hingga dalam proses wawancara. 

Apalagi, jika kata-kata tersebut kosong, dengan kata lain jargon tersebut tidak dapat dipenuhi sesuai janji. 

Budaya kerja yang kaku

Generasi milenial terkenal dengan jiwanya yang cenderung lebih bebas. Mengikat pekerja dari generasi ini dengan jam kerja yang kaku merupakan pilihan yang kurang tepat. 

Memberikan kebebasan secara waktu, ruang kerja hingga kepercayaan melakukan pekerjaannya tanpa micro-managing menjadi kunci sukses bekerja sama dengan generasi ini. 

Perusahaan yang memberikan ruang bebas penuh otonomi untuk mereka memiliki kemungkinan untuk menarik dan mempertahankan talenta terbaik dari generasi ini.

Tidak menyediakan cukup tantangan 

Generasi milenial memerlukan tantangan secara terus-menerus untuk memenuhi rasa ingin tahunya. 

Mewujudkan hal ini, yang dapat dilakukan misalnya menyiapkan program pelatihan dan pengembangan untuk karyawan hingga menyiapkan jalur karir yang jelas. Dengan begitu, karyawan akan mendapatkan tantangan. 

Di sisi lain, hal ini juga dapat dimulai dari bagaimana memberikan tugas yang semakin menantang dalam keseharian yang juga merupakan tugas dari manajer. 


Mulai pengalaman rekrutmen lebih mudah dan cepat bersama Glints

Artikel di atas dipersembahkan oleh Glints for Employers, mitra rekrutmen terpercaya untuk startup dan perusahaan di Asia Tenggara dan Taiwan. Lebih cepat dan hemat, pakar kami yang dibekali dengan teknologi siap membantu Anda terhubung dengan talenta terbaik di sekitar Anda. Temukan layanan lengkap kami untuk mulai membangun tim yang berkualitas hari ini.

Konsultasikan kebutuhan rekrutmen Anda GRATIS!