5 Konsep Berbisnis yang Wajib Dimiliki Entrepreneur4 min read

Setiap entrepreneur atau wirausaha punya tanggung jawab penuh atas keseluruhan bisnis yang dijalankan. Mereka menghadapi kesulitan, kekhawatiran, dan risiko kegagalan, jauh lebih besar dibanding pekerja upahan dan karyawan yang digaji bulanan dengan tugas dan tanggung jawab terbatas. Namun, dalam hal penghasilan, entrepreneur juga akan mendapat jauh lebih besar.

Kebanyakan wirausaha membangun bisnis dari bawah, mengalami fase jatuh-bangun, sampai akhirnya berhasil memiliki perusahaan dan menggaji ratusan karyawan. Menjadi entrepreneur adalah sebuah proses dan tidak bisa ditempuh secara instan. Modal uang banyak tidak otomatis menjamin bisnis menjadi sukses.

Pelaku bisnis yang baik memiliki setidaknya lima konsep berbisnis di bawah ini sejak pertama kali menjalankan usahanya:

1. Ketertarikan dan visi

Faktor paling mendasar yang membuat bisnis bisa sukses adalah ketertarikan (interest). Seorang entrepreneur punya peluang lebih besar untuk sukses apabila memulai usaha dari hal-hal yang membuat dirinya tertarik. Ia akan punya daya tahan luar biasa jika mengerjakan sesuatu yang menjadi ketertarikan walaupun melebihi waktu kerja, tidak cepat bosan, dan tidak akan gampang menyerah jika menemui kesulitan. 

Tetapi, ketertarikan saja tidak cukup. Meski seorang pengusaha akan merasa enjoy melakukan aktivitas sehari-hari karena ketertarikan dia, peluang untuk tumbuh dan berekspansi mustahil tanpa visi atau tujuan berbisnis. Entrepreneur harus punya visi yang kuat dan menggambarkan masa depan usahanya. Lalu, ia akan mewujudkannya bersama para karyawan.

Baca Juga: 10 Tips Rekrutmen Karyawan Saat ‘New Normal’

2. Beragam skill 

Sebagai pemimpin perusahaan, entrepreneur sebaiknya memiliki berbagai skill terkait industri yang ia jalankan. Akan jauh lebih mudah mengelola bisnis di awal apabila ia sangat terampil menyelesaikan bermacam tugas pekerjaan dalam industrinya secara efektif dan efisien. Skill tidak hanya terkait teknis, tetapi juga soft skill, seperti kepemimpinan, pengambilan keputusan, dan komunikasi.

Sebagai contoh, pengusaha yang ingin memulai bisnis startup dalam pembuatan aplikasi mobile games, maka ia mesti punya pengetahuan dan keterampilan khusus dalam bidang teknologi mobile berbasis Android, desain game, mobile app programming, dan juga marketing.  

3. Investasi finansial dan emosional

Setiap entrepreneur wajib berinvestasi dalam perusahaan yang dibangunnya. Investasi tersebut berupa waktu yang dihabiskan untuk mengelola bisnis, skill yang ia gunakan untuk menyelesaikan berbagai kendala, dan reputasi personal yang dipertaruhkan. 

Namun, yang tak kalah penting adalah investasi tangible dalam bentuk aset nyata yang bernilai ekonomis, baik finansial maupun non-cash seperti bangunan dan kekayaan intelektual. Entrepreneur yang tidak berinvestasi di perusahaan sendiri tidak akan bisa meyakinkan investor untuk ikut menanamkan asetnya. Perusahaan semacam ini tidak dapat diharapkan untuk berkembang. 

4. Risiko dan hasil

Kewirausahaan selalu lekat dengan risiko. Semakin besar investasi yang ditanam dalam sebuah bisnis, maka tingkat risikonya semakin besar, demikian pula sebaliknya. Tetapi, risiko juga berkorelasi positif dengan hasil. Risiko besar biasanya juga menjanjikan hasil yang besar pula, sedangkan risiko yang kecil juga memberikan hasil yang kecil.

Investasi dalam waralaba lebih kecil risikonya, tetapi hasilnya juga sepadan. Sementara seorang entrepreneur yang memulai bisnis dari nol mempertaruhkan investasi besar akan menanggung risiko lebih besar. Jika perhitungannya terhadap pasar dan konsumen keliru, ia bangkrut total. Tetapi jika benar, ia kaya raya.

5. Organisasi dan delegasi

Setelah merintis usaha sendirian, pengusaha perlu mendorong bisnis tumbuh lebih cepat dan stabil. Ia harus merekrut orang-orang yang punya spesialisasi untuk pekerjaan di perusahaan. Pada akhirnya, ia harus membentuk sebuah organisasi dan mendelegasikan setiap tugas pada karyawan yang direkrut. 

Memang pengusaha dan pemilik bisnis mesti tahu dan mengendalikan setiap hal yang terjadi di perusahaan. Namun, jika ingin perusahaan maju dan berkembang, ia harus belajar memercayai dan membiarkan orang lain melakukan bagian pekerjaannya tanpa banyak dicampuri. Karena, mau tidak mau, semakin besar perusahaan akan semakin besar pula organisasi yang menggerakkan bisnis.

Baca Juga: E-book: Hiring The Right Talent for Your Sales Team

Organisasi yang solid memiliki orang-orang yang tepat di setiap posisi. Itu sebabnya mengapa Anda sebagai entrepreneur sebaiknya hanya mencari karyawan yang punya kompetensi dan tujuan pribadi yang selaras dengan tujuan organisasi. Namun, mencari calon karyawan semacam ini bukan pekerjaan mudah dan kerap memakan waktu. Anda juga perlu menggunakan aplikasi rekrutmen karyawan untuk memudahkan proses seleksi.

Jika Anda baru dalam tahap awal mengembangkan perusahaan, lebih baik mendelegasikan pekerjaan rekrutmen top talent kepada tim perekrut profesional Glints. Anda dapat fokus mengurus bisnis tanpa repot menghabiskan waktu untuk merekrut karyawan

Beritahu tim TalentHunt mengenai job description dan kualifikasi kandidat yang Anda butuhkan. Tim akan bekerja dengan teknologi AI untuk menyeleksi kandidat secara otomatis dari ribuan calon potensial dan menyaring 3% top talent peringkat teratas, lalu merekomendasikan kandidat terpilih untuk perusahaan Anda hanya dalam waktu maksimal tiga minggu.

Anda dapat mewawancarainya dan menentukan apakah merekrut kandidat yang direkomendasikan atau tidak. Glints hanya mengenakan biaya rekrutmen apabila Anda mempekerjakan kandidat, yang dapat Anda bayar pada saat penandatanganan kontrak kerja. 

Anda tidak membayar jika batal merekrut atau tidak tertarik dengan kandidat. Glints juga memberi Anda jaminan berupa penggantian kandidat gratis, apabila dalam 90 hari kerja pertama, ia tidak cocok dengan posisi yang dicari perusahaan.

Recruitment Solution - Recruitment Platform - Job Portal - Aplikasi Lowongan Kerja - Iklan Lowongan Kerja | Glints Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published.