Bolehkah Perusahaan Menahan Ijazah Karyawan Ketika Offering Pekerjaan?3 min read

Praktik menahan ijazah karyawan dalam kontrak kerja antara perusahaan dan karyawan masih jamak dilakukan meski perundang-undangan tidak pernah mengatur ketentuan ini. Praktik ini lebih banyak dijumpai dalam offering pekerjaan untuk karyawan yang berstatus kontrak Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT).

Tujuan perusahaan menahan ijazah karyawan adalah sebagai jaminan agar karyawan bersangkutan menyelesaikan masa kontrak yang telah disepakati. Jika karyawan memutus kontrak sepihak di tengah jalan, maka ia tidak akan mendapatkan ijazah yang ditahan sampai membayar ganti rugi atas pemutusan kontrak.

Menurut UU Ketenagakerjaan, Pasal 62, pihak yang mengakhiri kontrak PKWT sebelum habis masa berlakunya diwajibkan membayar ganti rugi sebesar upah bulan yang belum dijalani.

Apabila salah satu pihak mengakhiri hubungan kerja sebelum berakhirnya jangka waktu yang ditetapkan dalam perjanjian kerja waktu tertentu, atau berakhirnya hubungan kerja bukan karena ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 ayat (1), pihak yang mengakhiri hubungan kerja diwajibkan membayar ganti rugi sebesar upah pekerja/buruh sampai batas waktu berakhirnya waktu perjanjian kerja.”

Misalnya, dalam kontrak PKWT 12 bulan, apabila karyawan mengundurkan diri pada bulan ke-3 maka ia wajib membayar ke perusahaan sebesar 9 bulan gaji. Demikian juga sebaliknya, jika perusahaan yang memutus kontrak, maka manajemen wajib membayar ganti rugi kepada karyawan.

Jadi, penahanan ijazah menjadi cara perusahaan agar karyawan tidak melakukan wanprestasi terhadap komitmen kontrak kerja. Namun, bolehkan praktik ini dalam kacamata hukum perburuhan?

Baca Juga: Perbedaan Job Description dan Job Specification

Jika ditinjau dari Undang-Undang Ketenagakerjaan No 13 Tahun 2003 yang memuat ketentuan PKWT, tidak ada aturan penahanan ijazah sebagai jaminan. Namun, jika mengacu pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), menahan ijazah karyawan bukan bentuk pelanggaran hukum karena tidak ada ketentuan yang menyebutnya sebagai tindak pidana dan tidak diatur sanksi hukumnya.

Pasal 1 KUHP menegaskan bahwa:

“Tiada suatu perbuatan boleh dihukum, melainkan atas ketentuan pidana dalam undang-undang yang ada terdahulu dari perbuatan itu.”

Pendapat yang sama juga disampaikan pakar hukum Universitas Jenderal Soedirman, J Satrio, yang membolehkan penahanan ijazah karyawan jika merupakan kesepakatan kedua pihak. Apabila kontrak mewajibkan perusahaan melakukan hal itu sampai batas masa kontrak, maka tidak melanggar hukum.

Sebenarnya, tanpa penahanan ijazah, kontrak kerja sudah lebih dari cukup, karena sudah berkekuatan hukum, berlaku mengikat, dan menjadi bukti di pengadilan dalam hal terjadi wanprestasi. Dalam Pasal 1338 KUHP, disebutkan bahwa perjanjian yang dibuat sah oleh para pihak berlaku sebagai undang-udang bagi mereka. 

Namun, jika Anda memilih menahan ijazah karyawan dalam offering pekerjaan sepanjang merupakan kesepakatan dan dibatasi hanya selama masa kontrak, maka hal itu tidak melanggar hukum. Namun, jika masa kontrak selesai dan ijazah tidak diserahkan kepada karyawan, maka hal itu baru menjadi kasus hukum.

Bagi HR dan manajemen perusahaan, mendapat karyawan tipe ‘tiga bulanan’ alias setelah tiga bulan resign memang cukup membuat pusing. Turnover inilah yang menjadi salah satu momok rekrutmen, di mana perusahaan bisa merekrut tetapi gagal mempertahankan karyawan.

Jika mau berkaca, ini bukan semata faktor millennials yang konon dikenal tidak betah, melainkan juga sistem rekrutmen yang perlu diperbaiki, misalnya posisi dan job description di aplikasi lowongan kerja tidak jelas atau kurang menggambarkan tanggung jawab dan tugas sesungguhnya, sehingga apa yang dibayangkan kandidat berbeda dengan kenyataan. Akhirnya, karyawan yang sudah terlanjur bekerja merasa dirinya tidak cocok dan memutuskan resign

Karena itu, sekali lagi, Anda mesti memastikan bahwa kandidat yang akan direkrut bukan saja berkualitas terbaik, tetapi benar-benar tepat di posisi yang Anda iklankan. Jika kesulitan mencarinya, Glints TalentHunt dapat membantu perusahaan Anda menemukan top talent dengan mudah.

Tim TalentHunt menyaring kandidat terbaik di antara ribuan yang terbaik, lalu merekomendasikan yang paling sesuai dengan yang Anda cari. Sebelum memutuskan merekrut atau tidak, Anda dapat mewawancarainya untuk memastikan bahwa kandidat benar-benar mengerti jenis pekerjaan dan tanggung jawab ke depan. 

Jika mereka tidak sanggup atau Anda merasa kandidat tidak sesuai, Anda boleh tidak merekrut dan Glints tidak membebankan biaya apa pun. Prinsipnya, Anda hanya membayar fee rekrutmen jika Anda akhirnya mempekerjakan kandidat yang direkomendasikan Glints.

Untuk menepis kekhawatiran terhadap turnover tiga bulanan, Glints akan memberikan jaminan 90 hari masa kerja. Jika Anda atau karyawan merasa tidak cocok, Glints akan memberi penggantian kandidat baru secara gratis.

Pasang Iklan Lowongan Kerja - Rekrutmen Online - Job Portal | Glints

Leave a Reply

Your email address will not be published.