5 Tips Mengurangi Burnout Karyawan Saat WFH4 min read

5 Tips Mengurangi Burnout Karyawan Saat WFH | Glints
Sumber: Pexels

Pandemi Covid-19 telah mengubah kebiasaan, tak terkecuali dunia kerja. Pergi ke kantor pagi-pagi yang tadinya lumrah, kini mulai tergantikan dengan bekerja dari rumah, alias work from home (WFH).

Pada awalnya, kebijakan ini disambut baik. Selain upaya menurunkan angka penularan, cara ini juga membuat para karyawan menghemat waktu perjalanan ke kantor. Dengan begitu, mereka bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga.

Namun, seiring adaptasi terjadi, tantangan baru muncul. Kerap ditemukan, sulit melakukan pemisahan antara waktu kerja dan pribadi. Ini dapat menuntut seseorang pada burnout.

Lantas, bagaimana caranya agar Anda dan karyawan terhindar dari stres berlebihan ini?

Peran perusahaan dalam mencegah burnout karyawan saat WFH

Burnout adalah kelelahan fisik dan emosional yang terjadi akibat tekanan berlebihan. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat mengancam kesehatan mental karyawan dan menurunnya produktivitas. Bagi perusahaan, hal ini juga dapat menyebabkan hilangnya talenta terbaik.

Saat bekerja dari rumah, stres pekerjaan bisa terjadi karena batas-batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi memudar. Akibatnya, karyawan bisa menghabiskan seluruh harinya untuk berkutat dengan pekerjaan.

Untuk itu, ada yang dapat perusahaan lakukan untuk mengurangi, bahkan mencegah stres berlebihan saat WFH.

Jeli melihat adanya perubahan kinerja

Saat jarang bertemu tatap muka, mungkin akan lebih sulit untuk mengetahui yang terjadi pada karyawan. Sebagai manajer, cobalah lebih peka terhadap tanda-tanda burnout yang mungkin muncul.

Beberapa sinyal yang bisa Anda tangkap, antara lain produktivitas menurun, menarik diri, sulit fokus, dan sering mengalami masalah kesehatan. Jika ini yang terjadi, cobalah berbicara kepadanya.

Tanyakan apa yang menjadi tantangan terbesar yang mengganggu kinerjanya. Tunjukkan bahwa perusahaan bersedia membantu mencari solusi untuk meringankan bebannya.

Buat jadwal yang jelas dan taati

Menetapkan jadwal yang jelas untuk jam masuk, jam pulang, jam meeting, dan menaatinya secara disiplin dapat membantu karyawan merencanakan harinya dengan lebih baik. Rutinitas semacam ini membantu mereka membuat perhitungan agar pekerjaannya dapat selesai sesuai dengan batas waktu.

Sebisa mungkin, minimalkan jadwal meeting. Terlalu banyak rapat, meski secara virtual, dapat menjadi distraksi yang akhirnya memperlambat laju pekerjaan.

Upayakan agar setiap karyawan dapat memilih tugas yang hendak mereka kerjakan, alih-alih memberinya penugasan tanpa mempertimbangkan load yang dimiliki. Hal ini dapat membuat kepemilikan atas pekerjaan dan perasaan tanggung jawab lebih tinggi.

Berdiskusi dengan karyawan mengenai kebutuhan mereka

Beralih dari mode kerja dari kantor ke WFH bagi beberapa orang mungkin tidak mudah. Suasana rumah yang seharusnya untuk bersantai, terpaksa diubah menjadi mode kerja. Ditambah, koordinasi antar anggota tim juga jadi lebih menantang dibandingkan saat tatap muka.

Bagi beberapa karyawan lainnya, bekerja dari rumah bisa jadi membuat mereka berusaha lebih keras untuk membuktikan bahwa dirinya pantas dipertahankan. Hal ini wajar mengingat masa-masa pandemi menimbulkan banyak ketidakpastian. 

Upaya pembuktian diri tersebut juga dapat membawa seseorang pada risiko burnout. Itu sebabnya, penting bagi perusahaan dan setiap karyawannya untuk menerapkan “aturan main” selama masa bekerja dari rumah.

Diskusikanlah dukungan apa yang dapat diberikan perusahaan pada masa sulit ini. Sementara itu, pastikan pula setiap karyawan memahami tujuan perusahaan. 

Tak ada salahnya untuk menyesuaikan kembali ekspektasi, baik dari sisi karyawan maupun perusahaan. Mengingat, pandemi yang datang tiba-tiba ini membuat segala sesuatunya serba tidak siap.

Tetap jalin komunikasi

Salah satu cara perusahaan membantu mencegah burnout pada karyawan adalah dengan melakukan beberapa perubahan terhadap metode komunikasi.

Kesempatan tatap muka yang langka menjadikan waktu ini lebih rentan membuat karyawan merasa demotivasi dan menganggap perusahaan tidak peduli terhadap kesejahteraan. Itu sebabnya, pastikan pola komunikasi dan program employee engagement berjalan semaksimal mungkin.

Tetapkan dan hargai batasan mengenai jam kerja 

Seperti yang telah disinggung, WFH membuat seseorang sulit memisahkan antara waktu kerja dan waktu pribadi. Di sinilah perusahaan memainkan peran penting.

Upayakan untuk tidak menghubungi perihal pekerjaan di luar jam kerja, terlebih jika itu hari libur. Karyawan yang menerima pesan terkait pekerjaan di luar jam kerja berpotensi mengalami stres karena work-life balance yang terganggu. Hal ini dapat menuntun mereka pada kondisi burnout.

Minimalisir burnout dengan merekrut kandidat satu visi lewat platform rekrutmen online

Perusahaan memiliki peranan yang amat penting dalam membantu karyawan terhindar dari burnout, terlebih di masa WFH. Selain membantu, merekrut orang-orang yang memiliki satu visi dan mimpi yang sama dengan nilai perusahaan juga dapat menekan angka stres muncul lebih lambat.

Glints TalentHunt dapat membantu Anda untuk menemukan kandidat terbaik dengan kesamaan visi dan misi perusahaan Anda. Lebih dari 30.000 perusahaan telah berhasil menemukan anggota tim terbaiknya dengan tingkat kepuasan 8/10.

Cukup dengan mengeklik https://talenthunt.glints.id dan menghubungi tim kami, Anda telah bisa mengakses 130.000 data profil kandidat berpengalaman kami yang telah dikurasi.

Tak perlu khawatir akan biaya, karena Anda tidak akan dikenai biaya apa pun selain biaya penerimaan karyawan saat rekomendasi yang kami berikan sesuai dengan perusahaan.

Garansi penggantian kandidat secara gratis selama 90 hari juga memudahkan Anda untuk menempatkan orang terbaik di organisasi Anda.

Platform Rekrutmen Online - Job Portal Gratis - Headhunter Indonesia | Glints

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *