6 Elemen Pola Pikir yang Wajib Dimiliki CEO5 min read

6 Elemen Pola Pikir yang Wajib Dimiliki CEO | Glints
Sumber: Pexels

Dengan menanamkan mindset yang tepat, seorang CEO (Chief Executive Officer) punya peluang sukses lebih besar dalam menjalankan 6 unsur utama pekerjaannya. 

Keenam unsur tersebut adalah mengatur strategi, menyelaraskan perusahaan, memimpin tim, bekerja sama dengan komisaris, menjadi perwakilan perusahaan di mata umum, dan mengatur waktu dan tenaganya sendiri. 

Pola pikir yang wajib dimiliki seorang CEO

Keenam unsur utama pekerjaan CEO dipecah ke dalam 18 tanggung jawab spesifik yang dibebankan bagi seorang CEO. 

Berdasarkan hasil analisa 18 tanggung jawab tersebut, baru terlihat adanya 6 elemen pola pikir yang harus dimiliki CEO agar bisa menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik. 

Berikut penjelasan 6 elemen mindset tersebut.

1. Strategi korporat

CEO bisa menanamkan pola pikir bahwa keberhasilan atau target perusahaan tidaklah kaku dan jadi harga mati, tetapi masih bisa dibedah lagi maknanya.

Seorang CEO yang baik tentunya memaknai keberhasilan dari apa yang diharapkan oleh semua pihak, kekuatan dan tujuan perusahaan, nilai yang ditawarkan oleh perusahaan bagi pelanggan, tren dan peluang di pasar, dan aspirasi pribadinya sebagai individu.

Namun, CEO dengan mindset kuat akan selangkah lebih maju dan mampu membedah keberhasilan yang mau dicapai. Misalnya sebuah perusahaan manufaktur bercita-cita untuk jadi nomor satu di industrinya. CEO yang selangkah di depan akan bercita-cita lebih jauh lagi, yaitu untuk jadi empat besar di antara semua industri. 

Mengikuti target baru tersebut, perusahaan harus menyusun strategi baru untuk berlomba mendapatkan talent terbaik, modal lebih banyak, serta bersaing lebih ketat dengan kompetitor. 

Hal tersebut akan berdampak pula pada berbagai standar kinerja perusahaan seperti margin, cash flow, dan lainnya. Mungkin memang ada hal-hal penting yang perlu dirombak yang tadinya tak disadari.  

2. Keselarasan organisasional

Pastikan setiap karyawan berada di posisi yang tepat agar bisa produktif dan kontributif. Langkah pertama yang dapat dilakukan, yakni mengenali posisi mana yang paling penting.

Bersama dengan eksekutif lainnya, CEO harus memastikan posisi-posisi tersebut diisi orang-orang yang tepat. Pantau terus sejalan tidaknya kontribusi dan culture fit mereka dengan ekspektasi dari posisi tersebut.

Penting juga untuk menanamkan mindset bahwa selain serba cepat, sistem organisasi harus tetap stabil. Kombinasikan kecepatan dan kestabilan. Keduanya sama-sama diperlukan agar pertumbuhan organisasional tetap selaras. 

Sebagai contoh, tentukan apa saja yang sifatnya tetap atau stabil seperti budaya perusahaan. Gabungkan semuanya dengan unsur-unsur dinamis yang bisa beradaptasi dengan perubahan yang cepat, seperti munculnya peluang baru. Tentunya, hal-hal baru ini harus tetap berpegang pada budaya perusahaan yang sifatnya lebih stabil.  

3. Tim dan proses

Sering kali sulit bagi CEO untuk melihat realita di timnya. Baik dari segi hasil kerja tim, prosesnya, maupun dinamikanya. 

Ini karena adanya bias kognitif dan organisasional yang membuat CEO jadi kurang efektif dalam menilai performa individu atau tim. 

Maka, CEO harus berhati-hati dalam memperhitungkan hubungan antar anggota tim misalnya. Sebaiknya jaga jarak yang wajar supaya tetap objektif tapi juga cukup dekat agar engagement tetap baik. 

Evaluasi proses atau kebiasaan yang sudah berjalan selama ini, baik saat rapat, memberikan laporan, maupun hal lainnya. Ini akan sangat membantu dalam melihat realita langsung, bagaimana dinamika karyawan sebetulnya. 

4. Keterlibatan para dewan komisaris

Hilangkan pola pikir bahwa meeting dengan anggota dewan komisaris (board members) hanyalah formalitas. Justru kolaborasi dengan mereka sungguh penting.

Libatkan mereka untuk berperan lebih dari sekadar tanggung jawab fidusier (legal, audit, dan laporan kinerja). Dorong mereka agar lebih aktif memberikan perspektif atau masukan soal strategi, teknologi, budaya perusahaan, manajemen talent, hingga komunikasi internal.

Keterlibatan mereka bisa membantu manajemen tanpa mengorbankan otoritas para eksekutif. 

5. Stakeholder eksternal

Para CEO perusahaan B2B biasanya fokus pada pelanggan mereka yang paling tinggi nilainya atau yang paling besar potensinya. Sementara, CEO perusahaan B2C sering tiba-tiba menginspeksi gudang, toko, atau operasi lini depan lainnya untuk memahami apa yang dialami dan dirasakan pelanggan saat menggunakan produk atau jasa perusahaannya. 

Mereka juga akan meluangkan waktu untuk beberapa investor yang paling aktif terlibat atau paling banyak ilmunya. 

Stakeholder eksternal lainnya seperti pembuat kebijakan, politisi, kelompok advokat, dan komunitas juga membutuhkan sebagian waktu dan perhatian CEO. 

Agar efektif, pertemuan-pertemuan ini harus direncanakan dengan matang. CEO harus tahu apa yang ingin diketahui atau disampaikan, serta cara menyampaikannya. 

Chief Executive Officer (CEO) juga harus jadi pendengar yang baik dan mampu mencari solusi yang menguntungkan kedua belah pihak bila memungkinkan. 

6. Nilai-nilai kerja pribadi

Supaya tidak kewalahan, para CEO harus paham benar mana yang bisa didelegasikan pada orang lain dan mana yang harus dikerjakan sendiri. Idealnya, waktu CEO harus diprioritaskan untuk hal-hal yang sifatnya tak terduga. 

Selain itu, penting juga untuk memilih secara sadar bagaimana posisi tersebut akan mereka perankan. Warisan apa yang mau ditinggalkan? Bagaimana tanggapan orang tentang dirinya? Apa nilai-nilai yang saya junjung tinggi? Apa saja yang tidak bisa ditoleransi? 

Jawablah pertanyaan ini menurut kekuatan dan motivasi pribadi serta kebutuhan perusahaan. Sebisa mungkin, ciptakan mekanisme untuk terus memonitor jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tadi. 

Bangun tim yang kuat dengan talent terbaik dengan bantuan platform rekrutmen online

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, penting bagi CEO untuk membangun tim yang kuat dengan orang-orang yang tepat. 

Platform rekrutmen online, seperti Glints TalentHunt bisa membantu menemukan kandidat berkualitas untuk tim yang efektif hanya dalam 2 minggu.

Merekrut dengan TalentHunt cukup mudah. Anda hanya cukup mengeklik https://talenthunt.glints.id untuk memulai. Konsultasikan dengan tim kami secara gratis peran yang ingin direkrut, beserta deskripsi pekerjaan dan kriteria yang diinginkan. 

Tidak ada biaya di awal. Anda hanya akan membayar setelah dapat kandidatnya, yakni pada saat hari pertama mereka bergabung di organisasi Anda. 

Tim perekrut kami menggunakan teknologi screening berbasis AI untuk menyaring resume lebih dari 130.000 kandidat terbaik yang telah dikurasi, untuk kemudian diurutkan berdasarkan peringkat. Kami akan merekomendasikan beberapa yang terbaik sesuai kebutuhan Anda. 

TalentHunt memberi Anda garansi 90 hari sehingga Anda bebas risiko. Jika kinerja karyawan yang kami rekomendasikan tidak memuaskan, tim kami akan mencari penggantinya untuk tim Anda secara gratis.

Platform Rekrutmen Online - Job Portal Gratis - Headhunter Indonesia | Glints

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *