4 Tips Menyusun Program Training Kerja yang Efektif5 min read

training kerja
Image: Clayton Cardinalli by Unsplash

Ketika membicarakan training kerja mungkin yang kita bayangkan adalah tentang meningkatkan produktivitas karyawan di kantor. 

Namun, produktivitas hanya salah satu manfaat penting dari training kerja yang diberikan kepada karyawan, baik itu on job training maupun belajar dari luar perusahaan misalnya secara khusus mengambil pelatihan. 

Ketika perusahaan menyiapkan program pelatihan kerja untuk karyawan, ini juga bisa menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan employee engagement. Tidak ada siapapun yang ingin perkembangan pribadi dan karirnya mandeg. 

Oleh karena itu, dengan perusahaan menunjukkan dukungan untuk pertumbuhan dan perkembangan karir melalui program training kerja bisa membuat karyawan bisa meningkatkan employee engagement.

Mengingat salah satu tantangan yang dihadapi bisnis saat ini adalah tingginya angka turnover yang membuat perusahaan menghabiskan banyak waktu dan biaya untuk melakukan rekrutmen. Padahal di saat yang bersamaan, kondisi bisnis kian kompetitif sekarang ini. 

Memastikan angka retensi karyawan di angka yang tinggi bisa menjadi salah satu langkah bisnis strategis. 

Di sinilah peran penting program pelatihan kerja yang efektif, supaya karyawan menjadi pribadi yang lebih kompeten sekaligus percaya diri untuk melakukan tugasnya dengan baik. Hal ini yang pada akhirnya bisa meningkatkan retensi dan juga produktivitas perusahaan. 

Pengertian  training kerja

Di Indonesia, training kerja diatur dalam PP No. 31 Tahun 2006 tentang Sistem Pelatihan Kerja Nasional. Dalam peraturan tersebut disebutkan bahwa pelatihan atau training adalah seluruh kegiatan untuk memberi, memperoleh, meningkatkan serta mengembangan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap dan etos pada tingkat keterampilan tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi jabatan atau pekerjaan. 

Beberapa hal yang bisa digarisbawahi dari pengertian di atas adalah training kerja bukan hanya meningkatkan kompetensi namun juga termasuk culture atau budaya perusahaan, seperti etos kerja dan disiplin. 

Metode training kerja

Secara umum, training kerja bisa dibagi dalam dua (2) kategori besar yaitu

On the job training 

Seperti yang tersirat dari namanya, on the job training adalah pelatihan yang dilakukan selama bekerja. Karyawan melakukan training sembari melakukan pekerjaan sesuai dengan jabatan dan keahliannya. 

Beberapa bentuk on the job training adalah magang, mentoring, job instruction training dan lain-lain. 

On the job training banyak dipilih oleh perusahaan karena lebih cepat dalam meningkatkan keahlian dan produktivitas karyawan. Hal ini karena selama melakukan training kerja menggunakan kondisi asli pekerjaan. Apalagi, tidak perlu ada posisi yang kosong selama pelatihan kerja berlangsung.

Untuk karyawan juga proses ini sering kali lebih mudah karena belajar sambil praktik sehingga lebih mudah menerima dan memahami informasi baru yang diberikan selama program pelatihan.

Off the job training

Biasanya untuk off the job training lebih fokus untuk program pendidikan dan pengembangan jangka panjang. Selama melakukan training kerja, karyawan yang bersangkutan biasanya bebas tugas sementara sehingga fokus pada program pelatihan dan pendidikan saja.

Beberapa contoh off the job training adalah kuliah, belajar sendiri, ikut dalam konferensi baik langsung maupun virtual dan lain-lain.

Biasanya perusahaan efektif menggabungkan keduanya dengan metode 70:20:10. Bagian terbesar dari training kerja yaitu sebesar 70% adalah on the job training, karyawan langsung terlibat untuk mengerjakan tugas atau proyek tertentu. Ditambah dengan 20% program mentoring dengan atasan atau ahli lain. Baru 10% sisanya adalah off the job training seperti kursus, mengikuti training atau workshop, dll. 

Langkah menyusun program training kerja yang efektif

Blog Namely menyebutkan 4 langkah penting untuk menyusun program kerja yang efektif:

Melakukan analisis skills gap

Sebelum memulai training kerja, penting sekali untuk memetakan area mana yang membutuhkan program ini. Skills gap adalah kondisi di mana ada celah antara keterampilan yang dibutuhkan perusahaan dengan keterampilan yang dimiliki oleh karyawan. 

Beberapa pertanyaan yang bisa membantu untuk melakukan analisis:

  1. Apakah skills gap yang ada di level individu atau perusahaan?
  2. Siapa yang akan bertanggung jawab pada proses pelaksanaannya?
  3. Training kerja seperti apa yang dibutuhkan untuk tindak lanjutnya?

Tetapkan target dan buat strategi

Untuk menetapkan target yang penting adalah membuat tujuan yang jelas dan terukur yang akan membantu untuk evaluasi kesuksesan program pengembangan karyawan. 

Setelah menemukan tantangan yang dihadapi melalui proses analisis skills gap, maka langkah selanjutnya adalah menentukan strategi apa yang akan digunakan untuk mengatasinya. 

Dalam tahap ini, beberapa pertanyaan yang bisa membantu adalah:

  1. Apakah perusahaan memiliki sumber daya dan kapasitas untuk melaksanakan program pelatihan in-house atau membutuhkan pihak ketiga untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal?
  2. Untuk karyawan yang menjadi target, pelatihan model seminar atau workshop yang lebih efektif?
  3. Training kerja yang lebih dibutuhkan terkait keterampilan, manajerial, etos dan budaya kerja, atau ketiganya?

Berinvestasi pada sumber daya yang tepat

Setelah memiliki strategi dan rencana di tangan, langkah selanjutnya adalah memastikan training kerja yang dilaksanakan berjalan sesuai dengan rencana. 

Dalam tahap ini, penting untuk berinvestasi di tempat yang tepat. Mulai dari mendata setiap sumber daya yang dimiliki perusahaan untuk melakukan program pengembangan sumber daya manusia. 

  • Teknologi, baik berupa perangkat keras maupun platform yang bisa membantu
  • Sumber daya manusia seperti trainer, coach, mentor 
  • Material belajar seperti buku, video, dll

Untuk menjawab pertanyaan di atas akan lebih mudah kalau sudah melewati dua tahap sebelumnya. 

Uji coba, evaluasi, lakukan lagi

Terakhir, tidak ada program training yang langsung sempurna dalam sekali coba. 

Oleh karena itu, penting untuk melakukan uji coba lalu evaluasi. Dari situ akan muncul perbaikan yang mungkin selama proses perencanaan terlewat. Apalagi, jika training kerja yang akan dilakukan berskala besar, penting untuk mencoba dalam pilot project kecil terlebih dahulu. 


Artikel di atas dipersembahkan oleh Glints for Employers, mitra rekrutmen terpercaya untuk startup dan perusahaan di Asia Tenggara dan Taiwan. Lebih cepat dan hemat, pakar kami yang dibekali dengan teknologi siap membantu Anda terhubung dengan talenta terbaik di sekitar Anda. Temukan layanan lengkap kami untuk mulai membangun tim yang berkualitas hari ini.

Daftar di bawah ini untuk mendapatkan konsultasi gratis