Ukur Keberhasilan Employer Branding dengan 3 Tolok Ukur Berikut4 min read

Photo by Pexel

 

Employer branding merupakan salah satu kunci memenangkan pasar lowongan kerja yang sangat kompetitif di era ini. Tidak hanya pencari kerja yang bersaing dengan jutaan pencari kerja lainnya untuk dilirik perusahaan, perusahaan Anda juga bersaing dengan banyak perusahaan lainnya agar dapat menarik minat talenta-talenta terbaik.

Data menunjukkan 75% pencari kerja mempertimbangkan employer’s brand atau citra perusahaan. Hal ini mempertegas pentingnya melakukan employer branding, atau usaha membangun reputasi dan citra perusahaan.

Jika perusahaan Anda telah melakukan employer branding, langkah selanjutnya adalah mengukur keberhasilannya. Mengevaluasi keberhasilan employer branding secara berkala dapat memberikan gambaran variabel yang masih belum berfungsi dengan optimal, agar Anda dapat merumuskan ulang strategi yang sesuai.

Ada beberapa metrik yang dapat dijadikan tolok ukur keberhasilan kegiatan employer branding Anda. Beberapa di antaranya dapat diterjemahkan menjadi KPI employer branding Anda.

Terus membaca untuk mengetahui cara mengukur keberhasilan employer branding serta tolok ukur apa saja yang perlu digunakan.

 

Menggunakan Analogi Corong (funnel analogy) 

Layaknya membangun reputasi produk atau jasa yang Anda tawarkan (consumer brands), employer branding juga dapat digambarkan dengan analogi corong yang terbagi menjadi tiga bagian:

  • Awareness dan persepsi industri di bagian atas, 
  • Pengalaman kandidat karyawan saat proses rekrutmen di bagian tengah, 
  • Pengalaman karyawan ketika telah resmi menjadi bagian perusahaan di bagian bawah.

Corong ini menggambarkan perjalanan pencari kerja dalam proses rekrutmen, mulai dari mengetahui industri dan perusahaan Anda, melamar sebagai kandidat, sampai akhirnya menjadi karyawan dalam perusahaan Anda. 

Analogi corong juga dapat menjadi petunjuk langkah-langkah dalam melakukan employer branding, mulai dari membentuk awareness dan persepsi industri serta perusahaan Anda, kemudian membentuk pengalaman kandidat karyawan saat proses rekrutmen yang menyenangkan, hingga pengalaman ketika kandidat tersebut resmi menjadi bagian perusahaan Anda.

Ketiga langkah tersebut juga dapat digunakan sebagai acuan untuk mengukur keberhasilan employer branding Anda. 

1. Mengukur Awareness dan Persepsi Industri

Mengukur awareness dan persepsi industri bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak orang yang kenal dengan perusahaan Anda serta apa yang mereka pikirkan tentang perusahaan Anda. 

Pada tahap ini, KPI yang sering digunakan adalah brand awareness dan engagement rate media sosial perusahaan Anda. Mengukur brand awareness dapat dilakukan dengan cara mengukur mention di media sosial, jumlah search, atau peringkat website Anda. 

Sedangkan engagement rate media sosial dapat diukur berdasarkan reactions, like, comment, save, share, direct message, profile visit, dan lain sebagainya. Selain mengukur engagement rate media sosial perusahaan Anda, Anda juga dapat membandingkannya dengan engagement rate media sosial kompetitor. 

Beberapa metrik tambahan yang dapat memberikan informasi mengenai awareness dan persepsi industri secara lebih mendalam meliputi brand sentiment, karakteristik atau asosiasi yang disematkan pada brand, serta branded search impressions.

 

2. Mengukur Pengalaman Kandidat dalam Proses Rekrutmen

Pengalaman kandidat dalam proses rekrutmen juga perlu diukur keberhasilannya. Pada tahap ini, KPI yang biasanya digunakan adalah candidate/hire quality serta cost per candidate/hire. 

Candidate/hire quality dapat diukur dengan mengukur jumlah pelamar kerja terhadap jumlah wawancara yang dilakukan. Sebuah studi menunjukkan persentase rata-rata jumlah pelamar kerja yang sampai ke tahap wawancara sebesar 12%. Jika persentase di perusahaan Anda di atas 12%, dapat disimpulkan bahwa Anda dapat menarik minat banyak kandidat yang berkualitas untuk melamar di perusahaan Anda.

Cost per candidate/hire mencakup biaya dalam proses rekrutmen, tugas pra-perekrutan, serta iklan lowongan kerja yang dipasang. Semakin tinggi cost per candidate/hire, semakin rendah tingkat keberhasilan employer branding di perusahaan Anda. 

Jika perusahaan Anda sudah memiliki employer branding yang kuat, kandidat yang akan secara proaktif melamar kerja di perusahaan Anda. Tingkat kecocokan kandidat-kandidat ini dengan perusahaan Anda relatif lebih tinggi, lantaran mereka sudah mengetahui apa yang Anda kerjakan serta nilai-nilai perusahaan Anda.

 

3. Mengukur Pengalaman Karyawan

Pada tahap ini, Anda dapat mengukur skor kepuasan karyawan dengan menggunakan beragam survei, formulir, spreadsheets atau dengan menggunakan alat bantu pengukur employee engagement seperti TinyPulse, Culture Amp, atau Lattice. 

Anda juga dapat melihat employee referral rate dan employee retention rate sebagai metrik kepuasan skor karyawan

Employee referral rate berbanding lurus dengan tingkat kepuasan karyawan. Semakin tinggi tingkat kepuasan karyawan Anda, mereka akan semakin tergerak untuk merekomendasikan perusahaan Anda ke pencari kerja yang mereka kenal. 

Begitu pula dengan employee retention rate. Semakin tinggi angkanya menandakan karyawan Anda nyaman menjadi bagian dalam perusahaan Anda. Pelajari juga metrik rekrutmen lainnya untuk pemetaan keberhasilan employer branding Anda yang lebih mendalam.

 

Sembari Anda mengukur keberhasilan employer branding Anda agar menarik minat talenta-talenta terbaik untuk melamar dan bergabung dalam perusahaan Anda, serahkan proses rekrutmen pada Glints TalentHunt.

Dilengkapi dengan teknologi machine learning serta database kandidat yang banyak, Glints dapat membantu proses rekrutmen menjadi lebih cepat dan efisien.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.